Kamu hidup dari apa yang kamu beri dan kamu belajar dari apa yang kamu dapat.
(Bisuk Abraham Sisungkunon Gultom)

Friday, 27 March 2009

Politik Pangan

Salah satu dari tiga kebutuhan dasar manusia dalam hidup adalah pangan. Namun, sadar atau tidak sadar sebenarnya pangan telah menjelma menjadi sebuah senjata politik selama puluhan tahun di bumi Indonesia ini.

Peran pangan sebagai senjata politik pertama kali diterapkan secara optimal pada masa Orde Baru, ketika Soeharto begitu gencarnya mengusahakan ketahanan pangan nasional. Soeharto menyadari betul karakter bangsa Indonesia yang dapat "ditenangkan" dengan ketersediaan bahan pangan yang memadai dengan harga yang terjangkau. Ketahanan pangan ini pula yang membuat kekuasaan Soeharto adem ayem di puncak kekuasaan negeri ini. Meskipun banyak teror pemerintah yang terjadi sepanjang pemerintahan Soeharto, namun selama bahan pangan dapat diperoleh dengan mudah dan murah, rakyat tetap hepi-hepi saja.

Nampaknya, peran pangan sebagai senjata politik untuk menarik hati rakyat inilah yang tidak diterapkan oleh tiga presiden yang menjabat setelah Soeharto dengan baik. Ketiganya agak sulit menciptakan ketahanan pangan yang stabil. Harga sembako yang fluktuatif membuat keberadaan sembako menjadi sulit terjangkau. Maka, tak heran rakyat yang tadinya "terdiam" satu persatu mulai "ribut" perihal masalah pangan.

Menjelang Pemilu 2009, peran pangan sebagai political weapon disadari betul oleh para partai politik sebagai salah satu isu yang ampuh untuk mendapatkan simpati rakyat. Hal ini dapat dilihat dari reklame janji partai-partai oposisi yang hampir semuanya mengumbar akan adanya sembako murah jika partai mereka berkuasa di parlemen. Bahkan, partai yang mem-back up pemerintahan SBY-JK saat ini (Golkar & Demokrat) mulai berkoar perihal keberhasilan pemerintahan SBY-JK dalam mencapai swasembada beras pada akhir tahun 2008.

Cukup menarik melihat fenomena pangan sebagai senjata politik di Indonesia. Mungkin melalui tulisan ini kita semua dapat berpikir lebih luas dalam memilih partai politik ataupun calon presiden nantinya agar kita memahami betul calon yang akan kita pilih dan tidak mudah terpancing dengan janji kosong khususnya yang terkait dengan masalah sembako. Ingat sekarang ini pangan bukanlah sebuah komoditas pokok biasa, melainkan sebuah kartu truf untuk berkuasa di negeri ini.

2 comment(s):

  1. bener juga..
    asal perut gak bunyi, mulut juga gak bunyi yah..
    nice article..
    ^^

    ReplyDelete