Kamu hidup dari apa yang kamu beri dan kamu belajar dari apa yang kamu dapat.
(Bisuk Abraham Sisungkunon Gultom)

Thursday, 18 June 2009

Waspada Demam Berdarah Dengue!

Hari Selasa (16/6/2009), saya akhirnya berhasil keluar dari RSU UKI setelah menjalani perawatan inap selama 7 hari. Saya didaulat oleh tim medis telah mengidap penyakit Demam Berdarah. Saya cukup terkejut atas vonis dari tim medis tersebut mengingat ini adalah kali kedua saya terjangkit penyakit demam berdarah setelah yang pertama kali pada medio tahun 2000. Karena penyakit ini begitu meninggalkan kesan di benak saya, maka dalam kesempatan ini saya akan mencoba mengulas penyakit yang cukup ditakuti ini.

Penyakit Demam Berdarah Dengue (Dengue Hemorrhagic Fever) disebabkan oleh virus dengue yang dapat mengganggu pembuluh darah kapiler dan sistem pembekuan darah sehingga penderita DBD yang sudah akut cenderung untuk mengalami pendarahan. Virus dengue ini disebarkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Kedua jenis nyamuk ini kebanyakan hidup di daerah tropis sehingga tak heran di negara-negara beriklim tropis semacam Indonesia penyakit DBD ini lazim ditemui.

Penyakit ini tergolong unik karena penderita DBD akan mengalami gejala awal yang menyerupai penyakit lain (seperti flu, tipus, dsb) yaitu demam tinggi tanpa ada sumber infeksi. Lantas, bagaimana kita dapat mengetahui bilamana seseorang terserang DBD atau tidak? Berikut paparannya.
  • Demam tinggi mendadak selama 2-7 hari (38-40 derajat celcius)
  • Munculnya bintik-bintik merah pada permukaan kulit akibat pecahnya pembuluh darah
  • Timbul beberapa gejala klinik, seperti mual, muntah, penurunan nafsu makan, menggigil, kejang, dsb
  • Tekanan darah menurun sehingga dapat menimbulkan syok/kematian
  • Terdapat rasa sakit pada ulu hati dan persendian
  • Pada pemeriksaan darah hari ke 3-7, terjadi penurunan jumlah trombosit hingga di bawah 100.000/mm3 (trombositopeni)
  • Terjadi perbesaran hati (hepatomegali)
  • Pada tahap akut, dapat terjadi perdarahan dikelopak mata bagian dalam, mimisan (epitaksis), buang air besar dengan kotoran berupa lendir bercampur darah (melena), dan lain-lainnya.
Apabila indikator di atas didapati pada seorang pasien, maka tim medis dapat dengan yakin memberi vonis DBD terhadap pasien tersebut.

Pertanyaan berikutnya, apa yang harus dilakukan saat proses pengobatan penderita Demam Berdarah Dengue ini?? Ada beberapa langkah yang dapat ditempuh untuk menjawab pertanyaan tersebut.
- usahakan penderita untuk minum air 1,5 - 2 liter per hari
- penambahan cairan intravena / infus untuk menghindari dehidrasi
- konsumsi antibiotik/obat yang dianjurkan oleh tim medis
- untuk pengobatan alternatif, penderita dapat mengonsumsi jus jambu biji merah, air rebusan angkak (pemerah daging ; berbentuk seperti beras), atau buah kurma. Bahan-bahan tersebut belum teruji secara medis, namun dapat membantu penyembuhan DBD.

Pertanyaan terakhir yang tak kalah pentingnya, bagaimana cara mencegah penyebaran penyakit yang mematikan ini? Berikut jawabannya....



Memang, satu-satunya cara untuk mencegah persebaran penyakit DBD ini adalah dengan mengendalikan nyamuk sebagai vektornya melalui pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Empat cara di atas menggambarkan upaya pemberantasan sarang nyamuk yang paling mudah untuk dilakukan. Di samping itu, pengasapan (fogging) juga dapat dijadikan solusi PSN yang baik meskipun tidak begitu dianjurkan mengingat asap melathion yang kerap digunakan saat fogging tidak baik untuk pernapasan manusia.

Akhir kata tetap sehat, tetap cerdas, dan tetap ingat Sang Pencipta!

0 comment(s):

Post a Comment