
Memasuki empat pertandingan awal Liga Primer Inggris, Liverpool justru tampil tidak meyakinkan. Di kala musim lalu The Reds hanya mengantungi dua kekalahan dalam satu musim, justru musim ini pasukan Rafa Benitez ini harus menelan dua kekalahan dalam pertandingan pertama dan ketiga menghadapi Tottenham Hotspur dan Aston Villa. Jika dilihat, komposisi tim tidak jauh berubah dari musim lalu. Kepergian Xabi Alonso dan Alvaro Arbeloa ke Real Madrid sebenarnya sudah ditambal dengan kedatangan Alberto Aquilani dan Glen Johnson. Lantas apa yang menyebabkan kemandekan The Reds saat ini?
Pertama, masalah defending midfielder. Pola 4-2-3-1 yang digadang Benitez musim ini jelas membutuhkan dua gelandang jangkar yang mantap dalam merusak alur serangan lawan sekaligus menjadi pihak pertama yang mengalirkan bola ke lini depan. Musim lalu, formasi ini cukup ampuh mengingat peran Alonso sangat vital dalam mengalirkan bola ke depan dan Mascherano sangat tangguh dalam merusak alur serangan lawan. Namun musim ini, lini tengah The Reds justru timpang pasca kepergian Alonso karena Lucas Leiva tidak mampu memainkan peran Alonso dengan baik sedangkan performa Mascherano tidak setangguh musim lalu (mungkin karena dirinya masih memendam asa merumput di Camp Nou). Hal ini mengakibatkan Liverpool seringkali tidak stabil saat diserang balik oleh lawan. Kedua, masalah set piece. Nampaknya Benitez tidak belajar dari musim lalu bagaimana rapuhnya lini belakang Liverpool dalam menghadapi set piece. Liverpool memang membutuhkan bek yang mumpuni dalam duel-duel udara sepeninggal Sami Hyypia ke Bayern Leverkusen. Musim ini Benitez tidak mendatangkan bek yang punya track record yang baik dalam duel udara dan anehnya Benitez justru memboyong Sotirios Kyrgiakos, bek asal Yunani yang punya reputasi sebagai bek kasar dan sering diganjar kartu merah. Ketiga, hilangnya kreativitas Benitez dalam meracik formasi. Empat tahun lalu, kala The Reds berhasil menggenggam trofi Liga Champions, Benitez terkenal karena kebijakan rotasi pemainnya yang efektif dan kemampuannya mengubah permainan tim melalui pemain pengganti. Namun, saat ini daya magis Benitez seolah luntur karena seringkali pergantian pemain yang dilakukan Benitez justru tidak berdampak positif terhadap permainan tim (terlihat dari empat pertandingan awal The Reds). Keempat, ketergantungan yang tinggi kepada sosok Torres dan Gerrard. Ketika kedua pemain ini berhasil dimatikan lawan, acapkali serangan Liverpool menjadi mandek. Kelima, peranan pemain sayap The Reds kurang menggigit. Penampilan Riera, Benayoun, Kuyt, dan Babel di posisi sayap kurang memberikan ancaman pada lini pertahanan lawan. Justru penampilan Glen Johnson lah yang sering merepotkan bek-bek lawan.
Lima kelemahan di atas merupakan pekerjaan rumah yang berat bagi Benitez. Jika kelima hal di atas tidak dapat diselesaikan, peluang The Reds dalam menggapai trofi Premier League yang pertama dalam 20 tahun ke belakang akan semakin menipis. Anyway, bravo The Reds! I'll keep supporting you! YNWA.
Lima kelemahan di atas merupakan pekerjaan rumah yang berat bagi Benitez. Jika kelima hal di atas tidak dapat diselesaikan, peluang The Reds dalam menggapai trofi Premier League yang pertama dalam 20 tahun ke belakang akan semakin menipis. Anyway, bravo The Reds! I'll keep supporting you! YNWA.

.jpg)



0 comment(s):
Post a Comment