
Hari ini secara kebetulan saya pergi ke toilet di fakultas ekonomi sebuah universitas terkemuka di Indonesia (sebut saja FE UI). Ketika saya hendak buang air kecil di kloset berdiri, saya menemui keran air di toilet tersebut masih terbuka dan air pun bertumpahan dari ember penampungnya. Pada awalnya saya masih merasa biasa saja, namun lama kelamaan saya berpikir bahwa fenomena ini bukan untuk yang pertama kalinya terjadi di toilet fakultas ekonomi tersebut. Dalam beberapa kesempatan sebelumnya, saya juga sering menemukan keran air yang lupa ditutup setelah digunakan.
Sungguh sebuah fenomena yang aneh mengingat fakultas ekonomi tersebut digadang-gadang sebagai pencetak ekonom yang berkualitas. "Kelupaan" menutup keran ini seringkali dianggap biasa oleh seluruh insan di fakultas ekonomi itu. Padahal, jika dihitung-hitung ada berapa liter air bersih yang harus "lolos dengan sia-sia" jika keran tersebut terus dibiarkan mengalir selama 1 jam? Apakah memang saat ini air bersih dipandang sebagai worthless natural resource? Padahal, di kawasan Gunung Kidul, air bersih merupakan barang yang tak ternilai harganya akibat langkanya persediaan air bersih di kawasan tersebut.
Memang butuh kesadaran yang lebih dari publik fakultas ekonomi tersebut untuk menyadari bahwa air bersih bukanlah sumber daya alam yang tidak berguna. Sebagai calon teknokrat bangsa, seyogyanya para mahasiswa fakultas ekonomi tersebut memiliki kepekaan yang lebih terhadap hal-hal yang demikian. Jika bukan kita yang melindungi kekayaan alam kita, lantas siapa lagi?
Memang butuh kesadaran yang lebih dari publik fakultas ekonomi tersebut untuk menyadari bahwa air bersih bukanlah sumber daya alam yang tidak berguna. Sebagai calon teknokrat bangsa, seyogyanya para mahasiswa fakultas ekonomi tersebut memiliki kepekaan yang lebih terhadap hal-hal yang demikian. Jika bukan kita yang melindungi kekayaan alam kita, lantas siapa lagi?
Indonesia memang termasuk sepuluh negara yang kaya air, tapi ancaman krisis air baku untuk minum semakin nyata. Hal ini dapat dilihat dari kondisi neraca air di Pulau Jawa yang hingga tahun 2000, ketersediaan air per kapita 1.750 meter per kubik per tahun, jauh di bawah standar kecukupan minimal 2.000 meter per kubik per tahun. Jumlah tersebut diperkirakan akan semakin menurun hingga mencapai 1.200 meter per kubik per kapita per tahun pada tahun 2020. (ANTARA News, 17 Maret 2007)

.jpg)



Ya...
ReplyDeletekita (mahasiswa feui) beranggapan bahwa air itu adalah barang yang berlimpah (public goods) dan tidak terbatas.. padahal sebenarnya, sekarang air sudah menjadi barang primer yang harus dibayar untuk diperoleh..
jika saja mereka tahu kalau 10 tahun lagi Indonesia akan mengalami krisis air, mungkin mereka akan berpikir ulang untuk bertindak seperti yang lo tuliskan...
yahhh begitu masyarakat Indonesia..masyarakat yang bebas, bahkan saking bebasnya semua dibuang..
inilah kenyataan..
ReplyDeletemasyarakat sangat terbuai akan kata-kata "Indonesia adalah negara yang kaya akan SDA" sehingga jika ditemukan air terbuang percuma, mereka akan berpikir "ah, cadangan air masih banyak ini!" padahal kenyataan berkata sebaliknya.
What an irony!