Minggu, 10 Januari 2010

Venesia Ala Jakarta

Venesia (bahasa Italia : Venezia , bahasa Inggris : Venice) adalah ibukota regione Veneto di Italia. Kota dengan luas wilayah 412 km persegi ini dikenal masyarakat dunia sebagai kota kanal (city of canals) karena di kota ini banyak didapati kanal - kanal yang dapat dilayari dengan menggunakan perahu Gondola ditambah dengan alunan musik tradisional ala Italia. Begitu indahnya kota ini sehingga Luigi Barzini, penulis dalam harian The New York Times, menggambarkan Venesia sebagai undoubtedly the most beautiful city built by man.
Pada hari Jumat, 8/1/2010, saya sedang pergi menuju arah Kuningan di tengah hujan deras yang mengguyur kota Jakarta. Ketika saya melintasi bilangan Kebun Nanas, saya tiba-tiba terjebak pada jalan raya yang berubah fungsi menjadi sebuah sungai (red. jalan tersebut tergenang air hujan). Limpasan air dari selokan, jalan tol dalam kota, dan air hujan dari langit itu sendiri berkumpul di jalan tersebut, seolah-olah membentuk sebuah kanal panjang yang berair coklat. Yah, serasa berlayar di venesia saja saya saat itu.
Pemandangan seperti itu bukanlah untuk yang pertama kalinya terjadi, namun Pemda Jakarta nampaknya lebih memilih diam melihat "kanal-kanal dadakan" yang muncul di beberapa kawasan ibukota ini. Fenomena ini jelas menghambat mobilitas penduduk dan dapat menimbulkan efek domino kepada sektor yang lainnya. Sangat ditunggu bentuk pemikiran Pemda Jakarta dalam mengentaskan masalah banjir ini. Di samping itu, kita sebagai warga juga harus bertindak proaktif dengan cara menjaga kebersihan lingkungan (suatu hal yang klise tetapi sulit dilaksanakan). Seperti kata pepatah, cintailah alam maka alam akan balik mencintai anda.

Senin, 07 Desember 2009

Ada Apa Denganmu The Reds?

Pasca kemenangan sensasional 2-0 atas Manchester United beberapa minggu silam, grafik penampilan Liverpool semakin menurun. Kemenangan seolah semakin sulit untuk didapatkan oleh laskar Rafael Benitez ini, khususnya dari tim-tim yang di atas kertas seharusnya dapat dikalahkan oleh The Anfield Gank. Salah satu puncak keterpurukan The Reds musim ini adalah kegagalan mendapatkan tiket babak 16 besar Liga Champions Eropa setelah tiket tersebut justru digenggam oleh Lyon dan Fiorentina.

Dangkalnya kedalaman skuad si Merah ditengarai menjadi penyebab utama mandeknya permainan The Reds. Ketika banyak pemainnya yang dilanda cedera, Benitez tidak dapat melapisnya dengan pemain yang sepadan. Di samping itu, permutasi formasi 4-2-3-1 yang diusung Benitez sudah begitu transparan bagi lawan-lawan The Reds sehingga pihak lawan pun dengan mudah menjinakkan The Reds. Parahnya lagi, ketergantungan yang tinggi terhadap poros Gerrard - Torres belum juga dapat dihilangkan Benitez dari skuad besutannya musim ini.

Ketika posisinya masih aman di Anfield, sudah selayaknya Benitez harus memutar otak dengan amat keras agar skuadnya yang sekarang ini dapat menelurkan hasil yang maksimal di setiap pertandingannya. Jika melihat pertandingan kontra Blackburn pekan lalu, nampaknya titik terang belum muncul di kubu Anfield. Butuh kreativitas dan effort yang lebih agar masih dapat bersaing memperebutkan tahta The Big Four EPL musim ini. Semoga pasukan The Reds mampu mencapai hasil yang terbaik musim ini! Go on Reds! YNWA...

Minggu, 22 November 2009

Masih Adakah Kebersamaan di Negeri Ini?

Pada suatu sore beberapa hari yang lalu, saya sedang berkendara di Jalan Raya Bogor dan hendak berputar arah. Ketika saya mengarahkan moncong mobil saya ke arah yang berlawanan, sejumlah motor dan mobil langsung menaikkan kecepatan mereka untuk melewati mobil saya. Mobil saya pun harus menunggu hingga kurang lebih sepuluh menit untuk memastikan keadan jalan aman untuk berputar. Setelah saya berhasil memutar arah, saya langsung berpikir mengapa para pengendara mobil & motor tadi tidak mau memberikan kesempatan kepada saya untuk memutar arah. Kejadian ini bukanlah yang pertama kali saya alami. Padahal jika mereka hanya berhenti untuk sejenak, tidak akan mengurangi waktu perjalanan mereka secara signifikan.
Sejak duduk di bangku sekolah dasar, masyarakat di Indonesia didoktrin bahwa Indonesia adalah negara berlandaskan Pancasila, yang mana salah satu silanya adalah kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan. Salah satu interpretasi dari sila ini adalah gotong royong dan kekeluargaan. Para founding fathers kita tentunya merancang sila ini dengan harapan setiap warga negara Indonesia dapat menjalin gotong royong dan kerja sama demi tercapainya kesatuan bangsa. Namun, jika melihat pengalaman saya tadi, yang tidak mencerminkan adanya gotong royong dan kebersamaan, tentu pantaslah saya bertanya, "Masih adakah kebersamaan di negeri ini ?"

Sabtu, 17 Oktober 2009

Kontradiksi

Hari ini saya (kembali) melalui Jalan Akses UI. Ketika saya terhadang oleh lampu merah perempatan, saya melihat sebuah spanduk yang bertuliskan (kurang lebih seperti ini) "Ayo Sukseskan Penghijauan di Kota Depok". Saya hanya bisa tertawa simpul dalam hati melihat pernyataan tersebut. Mengapa? Karena saya pikir spanduk itu bisa dikatakan sebagai sebuah 'omong kosong'. Mengapa demikian? Contoh minor dapat kita lihat dari pelebaran Jalan Margonda Raya. Bukankah dalam pelebaran Jalan Margonda Pemda banyak melakukan penebangan terhadap pohon-pohon besar yang telah sekian tahun menghuni tepi Jalan Margonda? Lantas mengapa kali ini Pemda mendadak pro penghijauan? Apa karena Pemda sudah mendapat kritik karena semakin "memanaskan" kawasan Margonda dan sekitarnya karena pelebaran jalan tersebut (salah satunya pernah dimuat di harian Kompas)?
Akhir kata, jika atasannya (baca : kaum birokrat) saja sudah tidak konsisten dengan kata-katanya sendiri, bagaimana masyarakat yang ada di bawahnya dapat mengikuti anjuran penghijauan itu? Pelajaran untuk hari ini : Jika anda berani untuk berkata-kata, anda juga harus berani berbuat.

Rabu, 14 Oktober 2009

Kesesakan di Jalan Akses UI

Entah mengapa dalam beberapa hari ini saya merasa bahwa Jalan Akses UI semakin padat saja. Rasanya ketika saya mengendarai mobil, entah itu di pagi, siang, sore, ataupun malam hari, jalan tersebut tidak pernah lengang. Bahkan pada suatu saat di hari Minggu, saya pernah terjebak kemacetan selama lebih dari 30 menit dari lampu merah perempatan hingga Asrama Brimob di Jengkol (untungnya saya langsung mengambil jalan menuju Timah). Entah karena ada penambahan volume kendaraan atau memang karena perasaan saya saja, yang pasti saya tidak bisa lagi "berkendara dengan leluasa" di Jalan Akses UI akhir-akhir ini.

Rabu, 23 September 2009

Comeback Mengejutkan Justine Henin

Kabar mengejutkan kembali melanda dunia WTA (Women Tennis Association) minggu ini. Pasalnya, mantan petenis nomor satu dunia, Justine Henin, memutuskan untuk comeback ke lapangan tenis pasca pensiun dininya pada 14 Mei 2008 saat ia masih menduduki singgasana peringkat satu dunia. Kembalinya ratu tenis asal Belgia ini seolah menyusul comeback yang juga dilakoni rekan senegaranya, Kim Clijsters.
Keputusan Henin terbilang mengejutkan mengingat dalam setiap sesi wawancara ia selalu menegaskan bahwa dirinya tidak berniat lagi untukmengayunkan raket di pertandingan resmi WTA. Namun, keberhasilan Kim Clijsters merengkuh titel grand slam US Open 2010 pasca pengunduran dirinya dari dunia tenis dua tahun silam seolah menjadi magnet tersendiri bagi Henin untuk kembai turun ke lapangan. Meski kesuksesan Clijsters ditengarai Henin bukan menjadi faktor utama bagi dirinya untuk comeback, namun penyandang tujuh gelar grand slam ini tidak menyangkal bahwa keberhasilan Clijsters turut memicu dirinya untuk kembali bertanding. Henin mengungkapkan bahwa ambisi utama dirinya kembali ke lapangan tenis adalah untuk meraih titel grand slam Wimbledon yang merupakan satu-satunya titel grand slam yang belum pernah diraihnya selama berkarir di dunia tenis profesional.
Sungguh menarik melihat kembalinya duet Belgia, Henin dan Clijsters ke kancah tenis profesional dan apakah Henin dapat tampil memukau seperti yang ia peragakan pada 2004-2008? Bagaimanapun, kembalinya petenis mungil dengan tinggi 164 cm ini akan menjadi ancaman tersendiri bagi para petenis putri tangguh lainnya, seperti Williams bersaudara (Venus dan Serena), Elena Dementieva, Svetlana Kuznetsova, Jelena Jankovic, dll. Kembalinya Henin juga menjadi ujian tersendiri bagi kepantasan Dinara Safina sebagai petenis nomor satu dunia saat ini, mengingat Safina selalu dihujani kritik lantaran dirinya belum pernah merengkuh satu pun titel grand slam. Just wait and see!

Kamis, 03 September 2009

Waspadai Sindrom NasDak !

A : Ah, dasar maling!
B : Kenapa lw?
A : wah, gw kesel banget ngeliat Malaysia yang berani-beraninya mengklaim Tari Pendet di iklan pariwisatanya.
B : oww...
A : nggak puas apa si Malingsial itu udah merebut Pulau Sipadan dan Ligitan dari pangkuan ibu pertiwi?? Gw sebagai anak bangsa sejati amat tersinggung sama perlakuan Malaysia itu!
B : begitu ya. emangnya lw tahu Tari Pendet berasal dari mana?
A : heh? dari mana ya? dari Jawa Timur kali...
B : lah? masa gitu aja gak tahu. Tari Pendet itu dari Bali cuy...
A : ya ilah, gw cuma pura-pura gak tahu kali.
B : kalau begitu, lw emangnya tahu di mana letak Pulau Sipadan dan Ligitan?
A : ya di sebelah Singapura lah. deket-deket Batam kan??
B : heh, kalo ga tahu gak usah sok tahu deh. Sipadan dan Ligitan itu kan letaknya deket Kalimantan Timur sana.
A : masa??
B : yah elah, ngaku-ngaku anak bangsa sejati tapi gak tahu tanah airnya sendiri kayak apa. gimana lw mau melindungi bangsa ini, sementara lw gak tahu apa yang harus lw lindungin dari bangsa ini???
A : hehehe, maap deh! maklum namanya juga terbakar emosi...

Percakapan di atas merupakan secercah cerita yang banyak terjadi di tengah-tengah masyarakat saat ini. Banyak sekali rakyat yang terserang virus NasDak (Nasionalisme Dadakan) ketika mendapati kenyataan bahwa kebudayaannya sudah diklaim oleh negara tetangga. Sungguh ironis melihat realita bahwa sebenarnya banyak rakyat Indonesia sendiri yang tidak sepenuhnya mengetahui seluk beluk negaranya sendiri sehingga tidak bisa menjaga unsur-unsur kebudayaan nasional yang sudah ada sejak jaman nenek moyang dahulu kala dari cengkeraman negeri lain. Memang sudah seharusnya nasionalisme itu benar-benar dibangun atas dasar sama rasa dan sama tahu.



Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apakah anda juga sudah terjangkit virus NasDak ini?